Pengalaman Pertama Muncul di Rubrik Buah Hati, Koran Republika


November kemarin, saya mencoba sebuah tantangan baru dengan mengirimkan tulisan ke Koran Republika. Saya sengaja cari tema yang ringan-ringan saja. Pas banget langsung kepikiran Rubrik Buah Hari. Kebetulan pula, saya punya stok tulisan tentang Akmal yang sekarang sudah tidak memakai popok lagi baik itu clodi atau pospak. Tulisan ini pernah saya tuliskan juga di blog, cek disini ya dan disini juga ya.

Continue reading

Cave Tubing di Goa Sinjang Lawang, Sebuah Impian bersama Toyota Rush


Masa Kecilku

Aku anak kampung. Terlahir dan besar di sebuah desa di pelosok Jawa Tengah. Semasa kecil, aku biasa bermain dengan teman sebayaku di alam ya di halaman, sawah, bahkan sungai. Gelak tawa dan canda ringan bersama anak-anak lain menghiasi ketika kami bermain kelereng, sudamanda, petak umpet, boneka atau sekedar masak-masakan dari bahan yang diambil di alam sekedarnya.

Waktu musim tandur (musim tanam padi) tiba, aku dan adikku suka ikut Bapak ke sawah, mengantarkan bekal makanan untuk para pekerja. Ketika Bapak sibuk bekerja di sawah, kami mencari belut di sela-sela pematang sawah. Bahagia tak terkira kalau ada belut yang berhasil tersangkut di pancingan sederhana yang kami buat secara manual. Jika Bapak sudah selesai dengan “tugas dinasnya” di sawah, kami ikut pulang dengan belut tergantung di sepeda tuanya dan kami berdua berdesakkan membonceng dibelakang mengulas senyum kemenangan. Yeay!

Continue reading

Lagi Ya, Bu..


Satu Cukup

Akmal baru lahir

Akmal baru lahir

“Sudah ah, satu aja anaknya. Aku kasihan lihat kamu tadi meregang nyawa” ungkap suami beberapa hari setelah aku melahirkan anak pertama kami, Akmal.

Kalimat tersebut masih segar terngiang di telingaku tatkala suami menyodorkan proposal untuk menambah anak lagi. Katanya anaknya cukup satu saja, eh ini kenapa tiba tiba beliau mau punya anak lagi saat Akmal masih belajar tengkurap. Ternyata keinginan punya satu anak cuma bertahan 4 bulan saja.

Kalau aku hamil lagi, apakah rasa sayangmu akan bertambah berkali-kali lipat?” Tanyaku iseng. Continue reading

Kepak Memori Bersama Garuda


Sore-sore dua hari yang lalu, ketika saya membuka surat elektronik, saya mendapatkan sebuah tawaran dari Garuda Indonesia terpampang di paling atas daftar surat saya. Sedikit mengulik memori, rasanya sudah beberapa tahun terlewati bepergian tanpa pesawat. Kondisi saya 2 tahun belakangan ini menuntut saya untuk tinggal di rumah saja karena fokus mengurus si kecil yang masih batita.

Tiga tahun lalu, saat saya masih aktif di sebuah lembaga, saya sering ditugaskan ke luar daerah. Baik itu daerah yang masih ada di Pulau Jawa maupun yang di luar Pulau Jawa. Saat itu, burung besi seperti menjadi teman akrab bagi saya. Bagaimana tidak, hampir tiap minggu saya si burung mengantarkan saya menuju ke tempat tujuan dan mengembalikan saya lagi ke tempat asal. Lantaran cekak dana, kantor pun hanya menyediakan layanan untuk terbang bersama maskapai non Garuda Indonesia. Oke lah, tak mengapa, yang penting sampai dan tugas selesai, pikir saya singkat waktu itu.
Continue reading

Melejitkan Bisnis dengan Internet nan Legit


Hampir 10.ooo bayi lahir tiap hari

Bayi yang baru lahir

Bayi yang baru lahir

Kehadiran seorang bayi didalam sebuah keluarga adalah sebuah anugerah yang tak terkira. Kedatangannya pasti ditunggu-tunggu oleh setiap pasangan. Diperkirakan ada 9.720 bayi lahir ke dunia setiap harinya (Harian Analisa, 2012). Wow, hampir 10rb bayi lahir per hari. Di satu sisi, ini merupakan ancaman ledakan penduduk di dunia dan bagi negara Indonesia tapi disisi lain hal ini berarti ada 9.720 pasang orang-tua yang membutuhkan nama bayi untuk diberikan kepada anaknya sebagai hadiah pertama nan istimewa.

Memberikan nama untuk bayi adalah sebuah hal yang gampang-gampang susah. Tidak jarang para orang tua dibuat bingung dan bimbang dalam menentukan siapa nama bayinya. Sebuah potensi besar ada dihadapan bahwasanya hal ini bisa membawa pada sebuah bisnis dimana saya dapat membantu para orang tua tersebut dalam membuatkan nama untuk bayinya. Katakanlah, jika setiap hari ada 1% saja (97 orang) dari orang tua yang menghubungi saya untuk dibuatkan nama bayi, pasti usaha di bidang pembuatan nama bayi ini bisa lebih berkembang.

Bisnis yang tertatih-tatih

Berawal dari peluang tersebut, tahun 2010 saya memulai sebuah usaha jasa di bidang pembuatan nama bayi. Bayangan saya, bisnis ini dapat dengan mudah dijalankan. Tapi ternyata tidak seindah yang saya bayangkan. Awalnya baru ada satu-dua orang saja yang memesan nama bayi. Itupun karena mereka saudara, teman kantor, atau temannya teman yang rata-rata mendengar info usaha saya dari mulut ke mulut. Pendapatan masih ala kadarnya. Pemasaran masih manual dan sepi pelanggan. Wah bisa-bisa tidak maju nih usahanya kalau begini terus caranya dan tidak ada pendapatan. Sementara saya membutuhkan pemasukan untuk membantu suami mencari nafkah.

Oke, memang bukan kewajiban saya mencari nafkah, tapi kalau istri bisa memiliki pendapatan sendiri bukankah rasanya lebih gurih. Bisa belanja beli baju atau tas sesuka hati tanpa perlu dicemberutin sama suami. Haha. Bisa nyelipin uang kapan saja dan dimana saja sewaktu-waktu dibutuhkan kan jadi bisa digunakan. Iya gak?

Pelanggan saya segitu-gitu aja. Gak nambah-nambah. Aduuh, gimana ya caranya biar naikin jumlah pelanggan biar bisa berimbas ke omset bisnis? Saya ingin bisnis ini bertambah besar dan saya mau bekerja dari rumah sehingga tidak banyak meninggalkan keluarga. Saya juga mau berbisnis yang unik, kreatif dan berdasar pada kemampuan knowledge.

GO ONLINE!

Kalau saya masih main yang manual dan pakai cara lama, maka usaha saya pasti akan jalan ditempat. Bisa bisa malah mundur tersalip oleh usaha lain. Orang lain sudah kemana, saya masih dimana. Mau gak mau, saya harus main digital strategy biar keuntungan maksimal dengan biaya minimal. Saya harus berstrategi biar bisnis yang baru dimulai ini bisa makin joss dan eksis. Gimana ya caranya?

Hasil putar otak dan diskusi dengan beberapa teman yang juga punya usaha, hampir semua dari mereka menyarankan saya bahwa saya harus mulai penetrasi pasar dengan memanfaatkan dunia yang semakin borderless. Internet jawabnya!

Continue reading

Bye Bye Diapers


“Akmal, sekarang kita mau ke luar, Ayah dan Ibu ada perlu. Akmal boleh ikut tapi kalau mau pipis atau *ek bilang ya nanti”

Kalimat tersebut selalu saya ulang-ulang jika kami hendak keluar rumah. Saya memang selalu berusaha membiasakan Akmal (sekarang 22 bulan) untuk tidak mengenakan popok/diapers jika diluar rumah. Kalau di rumah saja, memang sudah tidak pakai diapers lagi sejak umurnya 10 bulan. Alhamdulillah sekarang sudah bisa menikmati bepergian tanpa harus khawatir dia mau buang hajat di tengah jalan. Kemudahan ini bisa mulai saya rasakan ketika Akmal berusia 1.5 tahun saat ia mulai bisa di ajak komunikasi dua arah.

Bisa pergi-pergi dengan membawa anak yang sudah bebas dari diapers itu sesuatu sekali. Salah satu kebahagiaan Ibu muda yang gak perlu lagi mengalokasikan pos dana belanja untuk beli diapers. Yeay! Uangnya bisa dipakai untuk yang lain. Tapi kadang saya ya masih was-was jika keluar rumah lebih dari 4 jam. Anak ini nanti bakalan ngompol gak ya, *ek gak ya.

Empat bulan lalu, saya mudik ke Purworejo, Jawa Tengah. Perjalanan dengan kereta api memerlukan waktu kurang lebih 8 jam dari Bandung. “Udah pakaiin aja lagi diapers-nya daripada kamu nanti repot, apalagi nanti cuma berdua sama Akmal” Kata Suami. Iya, akhirnya saya bekali Akmal dengan diapers, satu dipakai dan satu lagi untuk cadangan. Kebetulan saya harus pergi sendiri (berdua dengan Akmal) karena suami harus dinas ke luar kota.

Akmal Main-Main dalam Kereta

Akmal Main-Main dalam Kereta

Continue reading

Masjid Agung An Nur, “Taj Mahal”-nya Provinsi Riau


Tak perlu jauh-jauh melancong ke India, jika kita hendak menikmati indahnya Taj Mahal.

Tak usah keluar banyak uang, cukup beberapa lembar saja

Yap.. Yap.. karena Taj Mahal kini dekat dengan kita, Provinsi Riau yang punya

Burung besi berwarna putih merah menerbangkan saya dari Jakarta ke Pekanbaru di salah satu pagi di tahun 2012, mengantarkan saya menyelesaikan beberapa pekerjaan yang menjadi bagian dari tugas akhir studi saya. Tiba di bandara Bandar Udara Internasional Sultan Syarif Kasim II, saya kembali membuka catatan kecil saya, memastikan tujuan saya hari itu akan kemana saja. Universitas Riau menjadi tujuan pertama saya diikuti dengan beberapa kunjungan ke kediaman orang tua mahasiswa yang kuliah di universitas dengan lambang lancang kuning tersebut.

Kegiatan pengambilan data di Universitas Riau dan di kediaman orang tua mahasiswa UNRI berjalan dengan lancar. Alhamdulillah. Selesai dengan lebih cepat dari jadwal yang telah ditentukan. Dua hari beres. Yeay! Pesawat yang akan membawa saya kembali ke Jakarta baru akan terbang sore harinya. Sementara siang itu, saya sudah menyelesaikan tugas saya. Kemana ya saya akan menghabiskan waktu selamat 5 jam ini?

Saya pun membuka smartphone saya, sembari mencari-cari informasi tempat menarik di seputaran Pekanbaru. Dalam pikiran saya, mungkin saya akan menemukan tempat wisata atau tempat belanja oleh-oleh khas Riau yang bisa saya datangi. Belum selesai Om Google menunjukkan lokasi yang saya inginkan, terdengar sayup-sayup suara merdu di kejauhan. Subhanallah… rupanya suara adzan dhuzur memanggil dengan indahnya.

Tanpa pikir panjang, saya meminta bantuan supir yang mengendarai mobil sewaan saya untuk langsung menuju masjid tersebut. Rupanya saya sedang tidak jauh dari masjid kebanggaan warga Riau, Masjid Agung An Nur.

Begitu memasuki halaman utama masjid saya langsung terkesima dan Allahu Akbar, masjid ini besar sekali dilengkapi dengan lahan parkir yang begitu luas. Kubah besarnya berwarna biru kehijauan nampak harmonis dengan menara yang kecil nan menjulang. Taman-taman yang tertata rapi dan bersih menghaluskan bangunan masjid yang kokoh dan kuat berdiri. Continue reading