Hidup Berpisah dari Orang Tua


Hidup mandiri terpisah dari orang tua itu ada enak dan enggaknya. Pertama-tama emang syusah, apalagi kami waktu itu benar-benar gak punya apa-apa. Selesai nikah belum ada rumah, status tinggal di hotel selama sebulan. Senin-Jumat saya di kosan Bogor, suami masih di asrama. Sabtu – minggu baru ketemu, kalau udah ketemu sibuk cari hotel. Seminggu pertama masih bisa tinggal di hotel yang enak, seger, dan aduhai, apalagi itu saat-saat bulan madu. Minggu-minggu berikutnya berakhir dengan hotel yang ala kadarnya dan lumayan buat tidur since kantong mulai menipis. Hihihi.

Sebulan kemudian, akhirnya kami menemukan sebuah rumah kontrakan kecil terdiri dari satu kamar tidur yang lumayan gedhe, dapur, ruang tamu, garasi, gudang, dan taman. Tinggal di kontrakan baru, belum punya kasur dan perabotan. Terpaksa malam pertama di kontrakan kasurnya minjem tetangga dulu. hihihi. Sebenernya itu rumah kontrakan sudah di pesan 1 bulan sebelum kami menikah. Tapi berhubung saya dan suami belum boleh menempati rumah itu, jadi weehh itu kontrakan di pakai oleh salah satu temennya Mas. Katanya mau di pinjam sebulan buat di tempatin keluarganya karena mereka lagi merenovasi rumah. Ternyata 1 bulan gak cukup, nombok jadi 2 bulan deh. Yah.. gimana lagi, akhirnya kami [terpaksa] tinggal di hotel. Demi…

Bulan-bulan selanjutnya masih indah tinggal di kontrakan, apalagi masih menyandang status pengantin baru. Aha! apa-apa terasa indah. Sampai pada akhirnya muncullah pertanyaan orang-orang terkait dengan kehamilan saya. Sampai usia pernikahan 8 bulan si calon baby belum turun juga dari surga. Kayaknya masih betah di sana, secara nyaman dan semua ada di surga. Pertanyaan terkait dengan itu kadang saya jawab dengan sabar dan legowo tapi lama-lama saya gedhek dan mangkel juga. Saya membayangkan kalau saya hidup di rural area di lingkungan tempat saya atau suami di besarkan, pasti pertanyaan semacam itu lebih tajam lagi, lebih pedas, dan lebih terasa menyayat-nyayat. Terasa banget pas pulang kampung, macam-macam lah bentuk-bentuk pertanyaannya yang semuanya bermuara pada “kapan punya anak?” rrrrr >,<

Ada baiknya juga kami langsung memisahkan diri [layaknya amuba] dari ketek bapak dan mama. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu tidak saya dengar setiap hari. at least mengurangi penderitaan saya, yah meskipun masih ada satu-dua yang masih suka tanya-tanya. Gak bisa dihindari.

Untunglah juga, sampai saya hamil 8 minggu sekarang ini, saya masih di Bandung. Kehidupan saya sekarang setidaknya saya usahakan jauh dari mitos-mitos tak berdasar dan hal-hal mistis yang aneh. Coba bayangkan kalo saya ada di rumah, pasti saya di bekalin peniti segedhe gaban plus bangle-nya, suruh nyimpan gunting di bawah bantal, de es be … de es be.. Hadduuuhh.. tolong ya, itu semua gak ada di agama saya, jadi apa yang berbau-bau mistik dan tidak di ajarkan di Islam tidak akan saya terapkan. Fyuh, sebenarnya orang tua saya sudah tidak menerapkan kejawen macam ini, tapi.. tapi…tetangga pasti ngomongin kalau saya gak nurutin apa kata mereka. Duh! Omongan tetangga memang kadang lebih menyakitkan ya. Untunglah, saya jauh dari mereka, jadi bisa lebih mengendalikan apa yang akan terjadi dengan keluarga saya sendiri… Fooillaa!

Tapi, tetep aja ada gak enaknya lepas dari Bapak dan Mama. Saya jadi gak bisa belajar masak. Umur tua gini masih gak canggih masak. Hihi.. jadi hasilnya suami kadang makan seadanya, kalau gak masak, ya saya beli jadi, beli roti, atau makan di luar sambil jalan-jalan. Tapi kok jalan-jalannya hampir tiap malam ya?

About these ads

6 thoughts on “Hidup Berpisah dari Orang Tua

  1. Mita, seruuu bgt baca ceritanya, weh itu baru mitos pas hamil, ntar d tmbh klo dede dah lahir hee. Aq termasuk org yg keras kepala nentang mitos yg ga rasional, ga ada hubunganny sm sains n bertentangan sm agama. Pernah liat d halal trans7 pemakaian bangle ky gt ga dperkenankan dlm islam. Biar bayi ga knp2 ibunya harus cermat rajin cek k obgyn klo dah wktuny n trz brdoa sm Allah krn Dialah pemilik kehidupan, bkn bangle dsb. Ditempatku, trmasuk budeh n bule ku msh make yg ky gitu2an, alhamdulillah ortu ku ga, cm mitos yg brhub sm kesehatan bayi aj yg msh aneh2 hehe. Smangat mit, smoga ibu n bayi sehat trz y, eh ayahny jg. Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s