Membuat Surat Pindah Penduduk dan SKCK


Setahun lebih menikah, keluarga saya belum memiliki Kartu Keluarga (KK). Jangankan KK, status di KTP pun belum berubah. Walaupun sudah menikah, tapi status di KTP masih lajang. Eits, tapi kami punya kok buku nikah resmi, jangan khawatir.

Saya, Armita, status “lajang KTP” sedang hamil 29 minggu. Sekitar 10/11 minggu lagi saya akan ganti status jadi Ibu dan hilanglah  status bumil ini. Persiapan jadi Ibu melahirkan ternyata tidak hanya sekedar blanja-blanji baju bayi yang super imut dan menyenangkan buat dilakukan maupun persiapan mental buat melahirkan. Tapi ternyata ada lagi persiapan yang justru ribet dan perlu disiapkan dari sekarang. Apakah itu? Persiapan membuat akta kelahiran buat adik janin.  Begitu janin lahir, dia butuh pengakuan secara resmi donk yang dibuktikan dengan adanya surat kelahiran atau akte.

Huaaa… proses itu nyaris terlewatkan :(. Di kehamilan usia tujuh bulan ini saya dan suami baru kebat-kebit nyiapin itu. Buat akta kelahiran itu katanya butuh KK. Bikin KK baru itu ternyata perlu surat pindah. Surat pindah itu harus dibikin di kota asal dan perlu SKCK juga. Prosesnya panjang, melibatkan banyak pihak dari RT, RW, desa, kecamatan, sampai tingkat kabupaten. Huaa.. udah kebayang deh ribetnya *nangis bombay level dua kabupaten.. Yang berarti bahwa kami harus mudik ke kampung halaman. Sempat tidak sempat harus disempatkan soalnya ini tidak bisa diwakilkan. *demi adik janin.

Maka, misi mudik itu pun dimulai.

1. Membuat Surat Pindah Penduduk

Saya saat ini ber-KTP Purworejo, asal daerah orang tua saya. Saya perlu bikin surat pindah ke Kabupaten Bandung karena ikut suami, *ceritanya pengabdian. Untuk membuat surat pindah, diperlukan surat pengantar dari desa dan kecamatan untuk diberikan kepada Kantor Catatan Sipil. Ada beberapa persyaratan yang perlu dipenuhi. Beberapa dokumen/barang ini harus saya bawa ketika kemarin saya mengurus surat pindah penduduk:

  • KTP asli dan fotocopy-annya. KTP asli nanti diminta di Kantor Catatan Sipil. Kalau status masih lajang, nanti akan diganti sekalian di kantor ini jadi “menikah”
  • Fotocopy KK diserahkan di desa, kecamatan, dan Kantor Catatan Sipil.
  • Foto 4 x 6 dengan background warna merah sebanyak 7 buah. 1 buah untuk di desa, 1 buah di kecamatan, dan 5 buah diberikan ke Kantor Catatan Sipil
  • Uang. Katanya uang ini untuk kas desa, jumlahnya sukarela. Ada petugas di desa saya yang mau menerima uang ini dan ada juga yang tidak mau. Berhubung kemarin ada Bapak yang membantu saya ke kantor desa, maka Bapak memberikan uang Rp 20.000 kepada petugas desa. Selain itu, di Kantor Catatan Sipil, kita juga bakal diminta Rp 10.000 untuk biaya “administrsi”. Bapak saya memang tipe “pemberi”. Maka demi alasan kedamaian dan keharmonisan keluarga, saya maklum dengan kondisi Beliau. hihi, kalau saya yang ke kantor desa mungkin saya kasih amplop kosong. wkwk..
  • Alat tulis:  pulpen, type-ex (buat menghapus kali aja ada yang salah tulis). Jangan lupa bawa ya, meskipun sepele tapi sangat penting. Pulpen ini buat ngisi dokumen yang diperlukan dan tandatangan. Saya lupa gak bawa, untung ada Bapak yang rajin antar-antar saya, jadi saya bisa pinjam pulpen Bapak. qiqi.. *enaknya bumil.

Kalau sudah dapat surat pengantar dari desa, langsung bawa ke kecamatan buat di legalisir ya. Trus bawa deh ke Kantor Catatan Sipil di Kabupaten. Jika misi dimulai pagi hari, pasti selesai kok dalam sehari. Dalam kasus saya, surat pindah ini harus selesai dua hari, karena misi baru dimulai pukul 10.30. Tadinya mau mulai jam 09.00 tapi karena KTP saya kebawa adik yang kerja di Jogja, jadi weeh mesti nunggu dia balik lagi ke rumah buat anterin KTP asli punya saya.

Sampai di Kantor Catatan Sipil sudah jam 12.45, petugasnya masih istirahat. Terpaksa nunggu deh. Loket baru buka jam 13.15, eh ternyata tidak bisa langsung jadi, baru bisa jadi jam 14.00. Daripada nunggu lama, Bapak ngajakin ke Polres buat urus SKCK.

2. Membuat SKCK atau SKKB (Surat Keterangan Kelakuan Baik)

Sambil membuat surat pindah, saya sekalian membuat SKKB ini. Sekalian ngurusinnya biar gak bolak-balik. Katanya, untuk membuat surat pindah, di Kabupaten/Kota yang dituju ada yang memerlukan SKKB ada yang tidak. Saya kurang tau, apakah Kabupaten Bandung mewajibkan adanya SKKB ini atau tidak. Ah lebih baik saya sediakan, kalau dibutuhkan ya nanti sudah ada, tinggal diberikan saja. Kalau tidak butuh, ya bisa buat simpan-simpan. Mungkin lain kali masih bisa dipakai.

Beberapa persyaratan yang diperlukan:

  • Surat pengantar desa dan kecamatan.
  • Foto 4×6 dengan latar warna merah. 2 buah untuk diserahkan di Polsek dan 3 buah untuk Polres. Fotonya harus berlatar merah, kalau gak nanti disuruh foto ulang loh.
  • Fotocopy akta kelahiran. Nah ini dia yang ribet. Akta kelahiran saya yang asli ada di rumah Bandung dan tidak ada satu lembar fotocopy-annya di rumah Purworejo. Eaaa…. galau tingkat tinggi. Untunglah saya punya e-filenya hasil saya menscan akta tersebut. Saya memang selalu membiasakan untuk membuat e-file dari setiap dokumen penting saya (KTP, ijazah, akta, passport, KTM, sertifikat, sampai buku nikah). Saya simpan di laptop, flashdisk, dan email. Sewaktu-waktu saya butuh, tinggal print aja. Gak perlu bawa-bawa yang asli. *cerdas kan? ;)
  • SKCK yang lama (jika sudah pernah membuat) atau siap-siap bikin baru. Sebenarnya yang dibutuhkan cuma rumus sidik jarinya saja. Kalau sudah pernah buat, ya tinggal ditulis aja rumus sidik jarinya, kalau belum ya nanti pasti disuruh cap 10 jari di Polres.
  • Uang. Tetap ya dibutuhin. Di Polsek, saya diminta “uang administrasi” sebesar Rp 5.000 dan di Polres Rp 10.000 (buat baru). Kalau legalisir SKCK, di Polres nanti diminta Rp 5.000. Katanya ini bukan pungli tapi pendapatan negara non pajak. Tak taulah ini benar atau tidak. Kalau benar, kok gak ada nota/kuitansinya ya?
  • Alat tulis.   Penting! soalnya nanti banyak ngisi blanko (3 lembar) di Polres tentang data pribadi dan riwayat kejahatan.

Prosesnya sehari selesai kok. Gak usah nunggu lama, saya cuma perlu waktu 1 jam, SKCK pun sudah ditangan.

Dua proses di atas baru saya bikin disini, belum di Kabupaten tujuan. Semoga nanti prosedurnya mudah dan bersahabat biar adik janin cepat punya akte kelahiran. Ohya, suami juga belum bikin surat pindah ya dan SKCK ya? Huaaa…

***

Special thanks:

- Bapak, yang dengan ikhlas dan sabar nganterin anak dan calon cucunya muter-muter ngurusin surat pindah dan SKCK, meskipun beberapa kali harus bolak-balik ke rumah karena ada beberapa dokumen yang ketinggalan

Adik, yang rela balik lagi ke rumah buat anterin KTP aku yang ketinggalan di dompet dia. Padahal dia udah hampir sampai Jogja

Mama, yang nyediain informasi dokumen apa aja yang dibutuhin.

Ternyata sebentar lagi aku udah gak satu KK ya dengan kalian..sedih sih.. :( Tapi.. gimana lagi

About these ads

11 thoughts on “Membuat Surat Pindah Penduduk dan SKCK

  1. mba mita,,, makasih ya infonya, sya jg blm ganti status di ktp;p,, heheh dikira gampang soanya ada yg bilang klo istri mah gampang tinggal bwa ktp trus bilang ikut suami, jd g perlu cabut berkas di tmpt lama,,,

  2. Pingback: Sindrom Libur Panjang dan Giveaway | MENARA HATI

  3. 4 bulan stlh nikah aq udah punya KK sendiri, status KTP juga udah ganti. Tapi aq gak pindah, karna suami yg pindah. hehehe… aq nya belum rela kalo alamat KTP ganti.

  4. ass mbak saya mau curhat nih.. saya menikah udah 4,5 tahun dah mempunyai 1 orang putra sedangkan saya belum punya KK dan anak belum punya AKTE apakah kira2 masih bisa di urus gak ya mbak.. kasian ankku gak ada akte mau masuk sekolah. sedangkan suami di ajak ngurus santai2 aja saya binggung mbak gmn ini.. terus kira2 biayanya habis berapa ya balas ya mbak tq

    • Walaikumsalam wr wb.
      Lebih baik segera di urus mba, soalnya itu dokumen penting. Lebih cepat lebih baik.
      Apalagi anak udah mau sekolah. Akte dan KK bakalan ke pakai seumur hidupp.
      Misalnya suami sibuk terus, bisa minta tolong orang lain utk urusinnya. Saya juga minta tolong temennya suami utk urusin kok. Kita cuma tinggal isi dokumen & siapin syarat2nya

  5. assalamu’alaikum,,
    mau tanya nih..,, saya kan krja di luar provinsi, dulu ngurus surat pindah dri kmpung,, trus ikut nebeng di KK orang,, saya ingin balik kmpung lgi tpi bisa nggk ya ngurus surat pindah tanpa KK asli., karna sekarang saya udah kehilangan kontak dengan yg punya KK asli.

  6. Sebenarnya murah ya,, kalaupun harus urus sendiri, baru aja saya mau buat surat pindah saya minta tolong kakak di kampung buat urus minta surat ket dr desa pindah ke jakarta, tp katanya hrs ada ktp asli sm foto2 dan dokumen lain2, tapi yg saya kaget kok bukannya diarahkan dikasih tau caranya kemana dulu, malah langsung d tawarin kalau mau buat cepet nanti ada orang desa yg urusin, untuk surat pindah saya dan suami, tp kena biaya 350, sementara dijakarta dikenai biaya 550.. Hadeehhh pusing, untuk bikin ktp DKI aja harus keluar 900 ribu, itu belum tetek bengeknya lagy nanti, bs 1jt an… Trs skrg saya mikir gmn ya? Diterusin apa ditunda dl, atau biarin aja ktp kampung tp tinggal di jakarta? Gmn ya, mohon solusinya…

  7. saya jg ngalamin hal yg sama.. Usia khamilan sy 7 bln. Dan sy lg ngerjain surat perpindahan suami sy. Tp biaya yg diminta desa cipasung kecamatan kuningan adalah 165.000 mba… Mahal bgt ya.. Mending buat beli popok bayi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s